Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

5 Alasan Tiket Masuk Borobudur Naik Jadi Rp750.000

Senin, 06 Juni 2022 | Juni 06, 2022 WIB Last Updated 2022-06-06T05:41:58Z

 

Penulis: Timitom OFC Editor: Owi CH

Berita-Indoya - Tersiarnya wacana kenaikan harga tiket Candi Borobudur membuat publik bertanya-tanya apa sebenarnya alasan Luhut Pandjaitan mempertimbangkan keputusan tersebut.


Meski masih dalam pembahasan, tak sedikit orang menilai harga yang dipatok berpotensi memberatkan calon wisatawan.


Pasalnya bagi turis lokal, harga naik Candi Borobudur dibanderol Rp750.000, sementara nantinya wisatawan mancanegara diwajibkan membayar 100 dolar Amerika atau sekitar Rp1,4 juta.


Kendati tuai pro dan kontra, rupanya ada dasar kuat yang mendorong pemerintah merundingkan hal tersebut.

Berikut lima alasan mengapa tiket Candi Borobudur naik jadi Rp750.000.


1. Menjaga Kelestarian Candi


Candi yang usianya diperkirakan mencapai 1.197 tahun ini dikabarkan mulai mengalami pelapukan.


Kondisi tersebut mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan terlebih mengingat Candi Borobudur adalah salah satu warisan budaya dunia menurut UNESCO.

"Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya nusantara," ujar Luhut Pandjaitan.

2. Meminimalisir Efek Overtourism


Bersamaan dengan wacana harga tiket baru untuk naik ke Candi Borobudur, pemerintah akan memberlakukan kuota kunjungan wisatawan per harinya.


Kelak hanya 1.200 orang yang diperbolehkan naik ke situs bersejarah itu demi meminimalisir penurunan kondisi candi.


Berdasarkan data yang diperoleh Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), Edy Setijono, sebelum pandemi Covid-19, turis yang menaiki bangunan bersejarah itu rata-rata 10.000 orang per harinya.

Kelebihan beban yang melampaui daya dukung fisik atau physical carrying capacity dari Candi Borobudur inilah yang jadi salah satu faktor terjadinya kerusakan.


Selain itu jumlah turis yang membeludak menyulitan pihak pengelola untuk mengontrol perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab.


Terbukti sebelumnya ada sejumlah ornamen relief yang aus lantaran terinjak-injak oleh wisatawan.

Belum lagi aksi vandalisme di bangunan candi yang membuat keelokannya berkurang.

Tahun 2020 saja, Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKB) mencatat 3.074 titik noda vandalisme (permen karet, puntung rokok dan corat-coret) yang dilakukan pengunjung di situs warisan budaya dunia tersebut.


3. Dorong Quality Tourism dan Tinggalkan Mass Tourism

Pemerintah bercita-cita menjadikan Candi Borobudur sebagai laboratorium konservasi cagar budaya bertaraf internasional.


Wacana tersebut diungkap Luhut bersamaan dengan disampaikannya rencana kenaikan harga tiket Candi Borobudur.

"Gotong Royong adalah prinsip yang kami pakai untuk bersama-sama mengembangkan konsep Candi Borobudur sebagai laboratorium konservasi cagar budaya bertaraf internasional," ujar dia.


Untuk mewujudkannya, pemerintah harus memutar otak demi menjadikan Candi Borobudur destinasi wisata yang berkelanjutan.


Oleh karena itu, konsep quality tourism atau pariwisata berkualitas akan lebih dikedepankan ketimbang mass tourism yang mengutamakan jumlah wisatawan.

Dengan begitu, kenaikan harga otomatis menjadi filter yang sangat bermanfaat untuk menjaga kelestarian situs.

"Artinya apa, orang yang mau naik ke candi harus betul-betul orang yang berkepentingan naik ke candi. Kalau orang mau foto-foto nggak usah naik ke candi, di bawah saja. Jadi itulah tujuannya. Jadi orang naik ke candi karena dia sudah membayar mahal, saya kira dia akan sungguh-sunggu, dia akan belajar, dia akan mempelajari. Tapi kalau cuma foto-foto rugi kan bayar Rp750.000, di bawah saja. Karena ada aspek konservasi tadi," tutur Edy Setijono sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara Nesw.


4. Stimulan Perekonomian Warga Lokal


Kenaikan harga diiringi dengan pembatasan pengunjung dinilai bermanfaat bagi pedagang lokal di sekitar Candi Borobudur.


Filter yang diterapkan untuk membatasi jumlah pengunjung naik ke situs akan membuat para wisatawan menyebar ke kawasan sekitar candi yang juga banyak dipenuhi oleh pelaku UMKM.

Sebaran pengunjung inilah yang diharapkan mampu menjadi stimulan kebangkitan perekonomian warga lokal.


Selain itu, pemerintah juga akan mewajibkan calon pengunjung menggunakan jasa tour guide lokal yang berimplikasi pada terciptanya lapangan kerja baru.


"Semua turis juga nantinya harus menggunakan tour guide dari warga lokal sekitar kawasan Borobudur, ini kami lakukan demi menyerap lapangan kerja baru sekaligus menumbuhkan sense of belonging terhadap kawasan ini," kata Luhut.

5. Akselerasi Pembangunan Wisata Berbasis Budaya dan Konservasi


Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), Edy Setijono, membantah kenaikan harga ini bersifat komersial.


"Kenapa kok mahal, seolah-orang jadi komersial. Tidak, bukan komersial, alasannya beda-beda," ujarnya.

Ada pun salah satu alasan pemerintah berencana menerapkan harga tiket baru untuk naik ke Candi Borobudur tak lain untuk membangun wisata yang tetap memperhatikan aspek budaya dan konservasi.

Sebagai langkah akselerasi dalam mewujudkan wisata berbasis budaya dan konservasi ini, pemerintah menggunakan mekanisme single authority agency.


Dengan menjalankan mekanisme tersebut, pemerintah akan menjadi koordinator, akselerator, sekaligus eksekutor yang bersifat fasiitatif dan kolaboratif untuk membangun destinasi wisata berkualitas.


"Dalam kunjungan pagi ini saya kembali menekankan sinergi antara konservasi dan pariwisata melalui mekanisme “’single authority agency" sehingga Borobudur bukan hanya menjadi salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas, tetapi juga destinasi wisata berkualitas," ucap Luhut Pandjaitan.

×
Berita Terbaru Update