Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Kebebasan Pers Terus Merosot, Ketua Dewan Pers Singgung Hacker dan Buzzer

Kamis, 09 Juni 2022 | Juni 09, 2022 WIB Last Updated 2022-06-09T05:00:00Z

 


Berita-Indoya - Ketua Dewan Pers periode 2022-2025 Azyumardi Azra turut membicarakan permasalahan Pers yang ada saat ini.


Hadir di Karni Ilyas Club (KIC) Azra membicarakan mengenai kebebasan Pers saat ini. Begitupun dengan kualitas Pers yang menurutnya terus menurun setiap hari.


Menimpali argument Karni Ilyas yang menyatakan bahwa media di Indonesia saat ini terus mengalami degradasi, Azra mengaitkannya dengan kebebasan Pers atau Freedom of Press yang terus menurun.


“Iya sih (kualitas media di Indonesia terus menurun), itu menjadi salah satu agenda pokok yang memang saya gaungkan. Tapi yang paling pertama kita harus sorot itu adalah, bahwa Dewan Pers harus mengukuhkan diri sebagai pilar demokrasi yaitu mengokohkan kebebasan Pers,” katanya.

“Kami harus menegakkan kembali serta memperkuat kembali freedom of Press, yang memang beberapa tahun ini mengalami kemerosotan,” ujarnya, dikutip Berita-Indoya dari Pikiran-Rakyat.com .

Menurut Azra berbagai data juga mengungkapkan hal yang sama. Hal ini bisa didapatkan baik dari dalam maupun luar negeri.


Data tersebut didapatkannya dari berbagai Lembaga yang menurutnya kredibel seperti Indikator atau SMRC.

“Demokrasi Indonesia mengalami kemunduran, decline, atau mengalami back sliding ke belakang dan bahkan cacat. Lembaga-lembaga tersebut menemukan bahwa semakin banyak orang, public, takut bicara,” ujarnya.

“Kenapa mereka takut bicara? Karena kebebasan itu sudah dibayang-bayangi misalnya UU ITE, kalau ada laporan atau pun pemberitaaan diungkapkan ke public maka bisa dikriminalisasikan, termasuk jurnalis,” katanya.


Tidak berhenti di sana, saat ini juga banyak cara yang dilakukan oknum-oknum dalam menghentikan kebebasan Pers.


Menurutnya ada semakin banyak Buzzer, serta hacker yang mencoba untuk menghalangi kebebasan berpendapat dan kebebasan Pers.

“Kan mereka (Buzzer) adalah influencer atau mendengung dan pemengaruh. Selain itu orang-orang kritis gawainya juga di hack, dibajak dan banyak itulah,” ucap Azra.


“Misalnya waktu itu, dosen UGM dan UI membahas tentang isu pemakzulan Presiden, hanya membahas itu saja dari sudut konstitusi. Namun semua pembicaraan itu diganggu dari hp dan sampai tidak bisa menyelenggarakan diskusi itu,” ucapnya.


Berbagai hal ini menurutnya perlu diwanti-wanti banyak pihak, karena menurutnya Pers adalah salah satu indikator demokrasi.


Menurut Azra, bila kebebasan Pers tidak dijaga maka esensi demokrasi juga akan berkurang.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Sumber: Pikiran-Rakyat

Editor: Owi CH

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

×
Berita Terbaru Update